Ceritaku cerita kita

Langkah Menapaki Riau Post




       Langit yang murung, dengan tetesan air yang membasahi dedaunan menemani pagi ku yang ceria. Tepat pukul 08:00 WIB kala itu mentari enggan menyinari, ku langkahkan kaki kecil ku mengenakan almamater kebanggaan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau ke Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
       Burung-burung mulai mengepakkan sayapnya mencari makan. Kendaraan bermotor mulai memadati kampus ku. Tetesan air yang menggenangi jalan mulai bercipratan. Hiruk pikuk suasana kampus mulai terasa, ku parkirkan motor ku di tempat yang tersedia. Dengan menyingsingkan lengan dan merapikan kerah baju, ku temui dosen dan teman seperjuangan ku. Yaa, aku adalah mahasiswa semester IV konsentrasi Public Relations B. 




Pagi itu, telah terjadi sebuah fenomena yang sebelumnya tidak pernah ku saksikan secara langsung. Kudapati salah seorang temanku berteriak tak karuan dan ternyata sedang mengalami kesurupan. Lalu semua panik dan mencoba memanggil ustad yang dapat menangani masalah ini.
Setelah kondisi dan keadaan mulai stabil. Aku dan rombongan melangkah menyusuri jalan menuju gerbang depan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim. Sesampainya di sana kami sudah di tunggu oleh busway yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Kami dibimbing oleh 2 dosen ilmu komunikasi yaitu bapak Assyari Abdullah dan seorang dosen jurnalistik.
Dengan antusias kami melakukan perjalanan menuju ke lokasi, dengan kekompakkan kami antara anak PR A dan PR B, membuat terikatnya silaturrahmi antara dua kelas yang berbeda ini. Dalam perjalanan kami menyanyikan beberapa lagu bersamaan. Canda tawa menghiasi busway yang kami naiki. Tak lepas, banyak diantara kami yang berfoto ria.


Tiba di pemberhentian halte, kami turun dari busway dan menyebrangi kepadatan lalu lintas jalan Soebrantas menuju gedung Riau Pos. Dalam perjalanan rombongan kami menjadi pusat perhatian pengguna jalan.
Sesampainya kami langsung menuju ke lantai 3 dimana tempat orang Riau Pos beraktifitas, dan melakukan rapat setiap hari. Kami diminta masuk ke ruangan rapat dan sambil menunggu tuan rumah kami dipersilahkan untuk melihat-lihat barang yang ada di ruangan tersebut.
Dengan terhormat kami di sambut oleh 2 orang penting di Riau Pos yaitu bapak hendriwanto( IT Riau Pos) dan bapak helfizon (wakil redaksi Riau Pos). Sebelum melihat-lihat mesin percetakan Riau Pos, kami diberikan materi mulai dari sejarah Riau Pos, sampai berdirinya Riau Pos sekarang ini.

Kami di beri penjelasan tentang sejarah riau pos yang awalnya berpusat di teluk kuantan sampai sekarang pindah ke Pekan Baru dan berpusat di Pekan Baru.


     
          Dengan menyatat seluruh apa yang dibahas, akan menjadikan sebagai pengingat kelak dari seluk beluknya Riau Pos. Sebenarnya ini bukanlah kegiatan anak seorang PR melainkan ini adalah kegiatan seorang Jurnalistik. Mengambil hikmahnya bahwasannya ilmu tidak selamnya kita dapat dari materi dan teori, akan tetapi ilmu bisa kita dapatkan dimana saja, dan melihat secara langsung pembuatan koran akan lebih cepat direkam oleh otak dari pada hanya diberi penjelasan yang tidak ada bukti dan gambarannya.
Kegiatan ini di buka oleh dosen kami yaitu bapak asyari abdullah selaku dosen mata kuliah Komunikasi Massa. Beliau juga sekaligus menjadi moderator dalam kegiatan ini.
Kegiatan-kegiatan seperti ini yang membuat mahasiswa menjadi lebih banyak pengalaman dan penmbahan pengetahuan dari orang yang langsung berpengalaman dibidangnya.
Melihat antusias dari kami bapak-bapak yang kretaif ini terbawa suasana yang santai dan tidak terlalu formal, canda tawa menjadi pengikat silaturrahmi antara kami.
Beliau memberikan kami cerita pengalaman-pengalaman mereka dari awal mereka meniti karir di Riau Pos. Sebagai orang yang berperan penting dalam pengembangan Riau Pos membuat mereka menjadi sukses dalam bidang-bidang jurnailis khususnya di bagian media cetak. Dan orang-orang yang berpengaruh di Riau Pos.
Dengan mengunjungi kantor pusat Riau Pos, membuat kami mengetahui bagaimana cara proses pembuatan koran. Selama ini , kami hanya mengetahui membaca dan melihat koran saja. Akan tetapi, tour ke Riau Pos kemarin membuat kami mengetahui bagaiman asal-usulnya pembuatan koran, dari mencari berita sampai koran sampai ke tangan pembaca.


Setelah menyampaikan pengalaman-pengalaman dan menceritakan sedikit tentang Riau Pos, selanjutnya dibuka sesi pertanyaan bagi semua peserta untuk bertanya seputar Riau Pos. Dari kelas 4 PR B dan 4PR A, berebut acungkan tangan untuk ditunjuk sebagai penanya. Rata-rata hampir semuanya ingin bertanya dan lebih ingin mengetahui kerja dan proses pembuatan koran dan bagaimana perkembangan-perkembangan Riau Pos ke depan.

             Salah satu penanya yaitu Eka Riska dari kelas 4 PR A, membuat saya terkesan dengan pertanyaanya. Eka riska bertanya tentang,Yaitu: dengan teknologi yang semakin pesat dan canggih, akan adakah kekhawatiran tersendiri dengan masa depan media cetak, khususnya koran. Apa bila terjadi pemindahan pembaca dari awalnya di koran kini netizen bisa menemukan informasi melalui media online yang memuat tentang berita-berita yang biasanya di muat di koran.
Pertanyaan ini membuat saya terkesan dan menurut saya mencakup seluruh pertanyaan yang mengena dengan masa depan koran. Dengan, begitu media cetak kini bersaing dengan media online, namun tidak mau kalah media cetak kini juga eksis melalui media online, namun sebenarnya lebih efektif membaca melalui koran sebagai media informasi yang masih eksis dari dulu hingga kini.


Setelah pertanyaan-pertanyaan yang sudah di jawab semua, maka sebelum menutupi kegiatan ini masing-masing kelas memberikan plakat sebagai kenang-kenangan dari kelas 4 PR A dan 4 PR B beserta foto bersama sebagai kenang-kenangan dan pengalaman yang akan kita ceritakan kepada orang lain.


Ini adalah ruangan redaksi, dimana seluruh kegiatan jurnalistik terjadi disini. Tapi sayang ketika kami mengunjungi Riau Pos ruangan ini sepi dan tidak ada orang dikarenakan mereka pergi keluar kantor untuk mencari berita. Namun, ruangan ini ramai dari sore hari sapai dini hari. Apabila pagi datang ruangan ini sepi dan tidak berpenghuni.

Selanjutnya kami juga diajak untuk melihat-lihat proses pembuatan koran lebih tepatnya tempat pabrik pembuatan koran.

Ini adalah mesin pembuat koran, mesin ini sangat panjang. Namun sayang, kami tidak bisa melihat langsung proses pembuatan koran. Karena itu, mesin ini beroperasi dari dini hari sampai subuh, dikarenakan mengejar waktu untuk sampai ke daerah-daerah penerima, dan sampai ke tangan para pembaca.

Sebelum di cetak koran diedit dan disusun agar muat dibagian halaman-halamannya. 

Ruangan yang ditutupi kaca itu adalah tempat pengeditan koran dan proses pembuatan seng koran sebelum di cetak. Ditempat itu semua berita dan iklan-iklan yang masuk diedit dan disusun per halaman.


Gulugan bulat besar yang berwarna coklat ini adalah kertas koran. Ini sanfat berat sekali, saking beratnya gulungan ini diangkut melalui pengangkut barang berat.


\         Ini adalah limbah koran-koran yang gagal cetak atau cacat dalam percetakan.
Kini mentari telah menunjukkan teriknya menerangi semesta yang kian menua. Kami pun meninggalkan gedung pencakar langit itu dan menuju halte. Di busway, canda tawa pun masih menghiasi suasana diantara kami.
Perjalanan ku kali ini merupakan pengalaman yang berharga bagi ku. Ku harap suatu hari nanti aku dapat kembali menginjakkan kaki ku disana. Terimakasih kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini dan terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kami kelancaran dan keselamatan dalam kegiatan ini.

Komentar